Welcome to My Blog.....

Senangnya Bisa Berbagi Kepada Teman-teman Semua.....

Cari Blog Ini

Memuat...

Laman

Jumat, 26 Agustus 2011

Bendungan Terbesar, Diresmikan Soeharto




Bendungan Terbesar, Diresmikan Soeharto

BELUM lama ini, Tim Radutraveling mengunjungi objek wisata Bendungan Air Manjunto di Mukomuko. Bendungan ini terletak di kawasan pertanian Desa Lalang Luas Kecamatan V Koto yang merupakan kecamatan pemekaran dari Lubuk Pinang. Bendungan ini di bangun pada masa pemerintahan orde baru yang di resmikan langsung Presiden Soeharto tahun 1989.
Bendungan ini sangat bermanfaat bagi warga di sekitarnya yang mayoritas bermatapencaharian sebagai petani. Selain itu, bendungan ini juga sangat menarik untuk dijadikan sebagai tempat wisata. Pada hari-hari besar seperti hari minggu, kawasan bendungan ini sangat ramai dipenuhi pengunjung. Terlebih ketika seperti Lebaran sebentar lagi, setiap tahun tempat wisata ini ramai dikunjungi mulai dari wisatawan lokal, domestik bahkan asing.
Objek wisata Air Manjunto merupakan bendungan irigasi yang berada di sungai Manjuto yang di kelilingi oleh panorama alam indah. Tak aneh jika banyak pengunjung yang menjadikan tempat ini sebagai lokasi rekreasi bersama keluarga. Untuk menuju lokasi ini, kita hanya butuh melewati perjalanan sejauh 20 Km dari Kota Mukomuko.
Untuk diketahui, bendungan ini merupakan salah satu bendungan terbesar di Provinsi Bengkulu. Banyak pihak berpendapat, bendungan ini akan semakin nyaman dikunjungi jika pekarangannya tertata rapi dan indah. Seperti adanya taman tempat bermain, serta tempat belanja berbagai produk khas daerah Mukomuko dan tersedianya barak-barak tempat peristirahatan.
Dulu, keberadaan bendungan yang mampu mengairi lahan persawahan seluas 4.919 hektare ini sempat menjadi kebanggaan bagi warga Mukomuko. Karena merupakan tempat yang indah sebagai lokasi berlibur yang dekat dengan pegunungan Mukomuko. Setiap tahun, saat Lebaran, kawasan ini selalu ramai dikunjungi warga lokal maupun luar daerah. Sebab di areal bendungan ini kerap digelar pentas hiburan. Bahkan pada hari-hari libur biasa, para muda-mudi sering nongkrong santai sembari menikmati indahnya panorama di sekitar bendungan.
Sedikit mengulas tentang sejarah bendungan ini, Oktober 2003 lalu, Japan Bank International Corporation (JBIC) menyetujui untuk mengucurkan dana Rp 112 miliar selama lima tahun anggaran dan pelaksanaannya. Dana ini digunakan untuk pembangunan irigasi sayap kanan yang  telah  dimulai akhir tahun 2004 lalu. Pertengahan tahun 2010 lalu, pembangunan ini rampung untuk pekerjaan saluran induknya.
Kabid Sumber Daya Air (SDA) DPUPE Kabupaten Mukomuko Agus Harvinda ST meyakini kawasan Bendungan Air Manjunto mampu menarik wisatawan jika keberadaannya tertata dengan baik. "Tapi kan itu kewenangan pemerintah pusat. Kalau Pemkab Mukomuko yang mengelolanya, selain membutuhkan dana cukup besar guna mempercantik pekarangannya, tentu harus melalui prosedur yang panjang," kata Agus.
Sebab, lanjutnya, Bendungan Air Manjunto merupakan kewenangan pihak pemerintah pusat dan pemerintah pusatlah yang berhak untuk meningkatkan kawasan itu agar menjadi menarik sebagai tempat wisata. "Selama ini sesuai ketentuan, perawatan rutin setiap tahunnya dibawah naungan pihak Balai Sungai Wilayah Sumatera VII Bengkulu," tegasnya. (aris- radar utara)

Tabarenah, Sejarah yang Terlupakan







Tabarenah, Sejarah yang Terlupakan

BANYAK pejuang Indonesia yang tak tercatat dalam sejarah. Meski demikian, setelah merdeka saat ini, jejak sejarah akan menjadi saksi bisu. Untuk itu, harusnya jejak sejarah perjuangan menuju merdeka di beberapa daerah di Provinsi Bengkulu idealnya tidak diabaikan. Mesti ada perhatian khusus pemerintah agar kita tak termasuk orang yang melupakan sejarah.
Bertepatan dengan moment HUT RI ke-66 beberapa hari lalu, Tim Radutraveling mengunjungi jejak sejarah di Bumi Pat Petulai Rejang Lebong. Jejak sejarah ini terdapat di Desa Tabarenah Kecamatan Curup Utara. Informasi awal menyebutkan, desa ini menjadi saksi bisu atas pertumpahan darah pejuang Indonesia dalam perlawanan terhadap tentara Jepang, 30 Desember 1945 silam.
Desa ini terletak di jalan lintas Curup-Muara Aman atau sekitar 5 Km dari ibukota RL. Mengawali perjalanan kali ini, kami langsung mengunjungi sebuah tugu perjuangan di pinggir jalan lintas Curup-Muara Aman. Namun sayangnya, tugu perjuangan yang dibangun sekitar tahun 1946 tersebut kini tampak tak terurus. Bahkan beberapa bagian tugu tampak retak-retak.
Tiba di lokasi, kami cukup beruntung. Sebab kami dapat bertemu langsung dengan salah seorang warga Tabarenah, Abek, 83 tahun, yang tinggal tak jauh dari tugu perjuangan tersebut. Dari sinilah kemudian sejarah itu dimulai.
Diceritakan Abek, 30 Desember 1945 lalu telah terjadi peristiwa peperangan cukup besar antara tentara Indonesia dibantu masyarakat (TKR) melawan serdadu Jepang. Sebenarnya, perlawanan itu telah terjadi sejak 27 Desember 1945. Sebab pada waktu itu, serdadu Jepang masuk dan ingin menguasai Kota Curup. Bahkan penjajah itu kian gencar mengumbar teror dan tak segan-segan membunuh masyarakat yang melakukan perlawanan.
"Puncaknya saat itu tentara Jepang ada yang dipenggal atau dibacok kepalanya oleh masyarakat RL. Tentara Jepang itu dibacok Jaiman, warga Talang Kering. Pembacokan itu terjadi karena saat itu tentara Jepang menginstruksikan kepada seluruh masyarakat untuk membuka pintu dan jendela. Sedangkan rumah Jaiman tidak membuka pintu. Ketika tentara Jepang mencoba mendobrak, tentara Jepang itu justru dipenggal kepalanya oleh Jaiman. Peristiwa itu terjadi 29 Desember 1945," kisah Abek.
Dipenggalnya kepala tentara Jepang saat itu membuat kemarahan Jepang memuncak. Kemudian pada 30 Desember sekitar pukul 06.00 WIB, serdadu Jepang langsung menyerang dan memborbardir pertahanan tentara Indonesia dan TKR di Desa Tabarenah, tepatnya di jembatan Desa Tabarenah.
Pejuang Indonesai dibawah komando Burlian, Iskandar dan Zakaria Kamidan pun langsung melakukan pertahanan dan perlawanan. Namun karena tak memiliki amunisi dan peralatan cukup, akhirnya serdadu Jepang berhasil menerobos pertahanan pejuang Indonesia dan berhasil masuk ke Desa Taberenah. Selanjutnya, tak kurang ratusan rakyat di desa itu menjadi korban amukan tentara Jepang.
Seperti digambarkan Abek, Desa Tabarenah saat itu bagaikan lautan api yang dihujani gemuruh mortir dan tembakan. "Bayangkan saja, dari 66 rumah saat itu, yang tidak terbakar hanya 6 rumah. Yang lainnnya dibakar habis serdadu Jepang," ujar Abek sembari menunjukkan salah satu rumah yang tidak terbakar dan masih utuh sampai saat ini.
Tak berapa lama setelah itu, rasa nasionalisme warga lain pun bermunculan. Ratusan masyarakat dari berbagai daerah seperti Muara Aman, Ujung Tanjung, Tes, Kota Donok, Talang Leak (saat ini semuanya masuk dalam Kabupaten Lebong) dan Air Dingin Pal VIII, Bukit Daun serta Tabarenah, ikut melakukan perlawanan untuk mempertahankan kemerdekaan.
Setelah melakukan perang dengan cara berhadap-hadapan (frontal) sehari penuh, ratusan pejuang Indonesia pun gugur dan berserakan di tanah Desa Tabarenah. Sementara serdadu Jepang yang kondisinya hampir keseluruhan tewas dan luka-luka, memilih mundur menuju Teh Kuku (sekarang Kelurahan Dwi Tunggal Kecamatan Curup). Sedangkan pejuang Indonesia Komandan Burlian, Iskandar dan Zakaria dilarikan ke Muara Aman karena terkena tembakan.
"Untuk diketahui, penyerangan Jepang ini dimulai dari Jakarta dan habisnya di Tabarenah ini. Saat itu tentara Jepang hampir semuanya tak bisa bergerak. Ada yang sudah tewas dan ada yang luka-luka. Yang tinggal hanya sopirnya saja, sekitar 90 orang tentara Jepang itu kemudian ditumpukkan ke dalam mobil milik mereka dengan jumlah total 8 mobil. Kemudian puluhan tentara Jepang itu dibawa ke Teh Kuku," paparnya.
Setelah puas mendengar cerita pelaku sejarah, kami langsung mengunjungi rumah panggung yang masih tertinggal pada saat peperangan terdahulu. Kami juga melihat tugu perjuangan yang baru dibuat pada tahun 1999 lalu berada di pinggir sungai musi yang berada tak jauh dari jembatan Tabarenah. Keadaan tugu tersebut hampir sama dengan tugu pertama, tak terawat dan terancam rusak.
Secara terpisah, Kepala Dinas Pariwisata dan Budaya Kabupaten RL Muhammad Rizal mengatakan, Desa Tabarenah merupakan sebuah desa sejarah perang terbesar di Provinsi Bengkulu. Dalam peristiwa itu peperangan di desa ini, sekitar 250 pejuang Indonesia gugur dan luka-luka. "Kami memang berencana akan lebih mengembangkan Desa Tabarenah tersebut menjadi lokasi desa wisata sejarah. Karena tempat disana cukup stategis, ada  cerita sejarah dan rumah kuno, ada sungai yang membentang dan ada tugu sejarah," ungkap Rizal. (sanca - Radar Utara)

Pantai Ketahun, Sisa Kejayaan Masa Lalu





Pantai Ketahun, Sisa Kejayaan Masa Lalu

PANTAI Ketahun yang terletak di Desa Pasar Ketahun merupakan salah satu objek wisata yang pernah berjaya dan memberikan kontribusi bagi pembangunan desa setempat. Namun karena proses alam dan dampak abrasi yang parah, menginjak tahun 2006 lalu kawasan pantai yang penjangnya membentang hingga delapan kilometer ini hanya tinggal kenangan. Meski warga masih menaruh harapan besar untuk mengembalikan kejayaan kawasan objek wisata bahari itu,  namun dibutuhkan waktu panjang mengembalikan objek wisata itu sebagai lokasi tujuan wisata.
Pantai Ketahun membentang dari muara Sungai Ketahun hingga ke kawasan Air Sabu memiliki banyak cerita sebelum memasuki tahun 2006 lalu. Berbagai event dan kegiatan menarik lainnya pernah digelar di lokasi ini. Menariknya, kejayaan Pantai Ketahun kala itu hanya mengandalkan keindahan alam serta beberapa objek yang memang tersedia secara alami.
Niat dan keinginan pihak pemerintahan desa setempat bersama Karang Taruna untuk memberdayakan potensi alam itu secara maksimal agar dapat memberikan kontribusi bagi pembangunan desanya kala itu belum terwujud. Sebab memasuki tahun 2006, alam mulai tak bersahabat. Abrasi terjadi dan kondisi itu terus terjadi sampai saat ini.
Salah seorang pemuda Ketahun, Ganti mengatakan, Pantai Ketahun merupakan sebuah kekayaan alam yang dianugerahkan Tuhan dengan berbagai keindahannya. Pohon rindang, muara sungai dan beberapa faktor pendukung alam yang ada merupakan daya tarik tersendiri bagi pengunjung. "Kalau bicara soal potensi, lokasi ini cukup strategis. Apalagi sebelum abrasi mengganas," ujarnya. Beberapa event sengaja digelar oleh pemerintah desa bersama pemuda untuk menarik minat pengunjung. Namun upaya itu seakan sia-sia karena alam tak dapat dilawan. Dalam seketika, kawasan pantai ini habis tergerus abrasi parah dan baru mulai pulih kembali sejak setahun terakhir.
Meski demikian, Ganti menyatakan warga Ketahun masih menaruh harapan besar terhadap potensi wisata alam Ketahun itu agar dapat kembali seperti dulu. "Saya yakin dan optimis Pantai Ketahun bisa kembali menjadi lokasi wisata andalan," katanya. Hanya saja, hal ini hanya akan terjadi apabila mendapatkan penanganan dan perhatian semua pihak.
Untuk diketahui, lokasi Pantai Ketahun sangat mudah dijangkau, dekat dengan pemukiman ditambah dengan adanya dukungan fasilitas yang akan dibangun perusahaan seperti dermaga batu bara. "Itu kalau memang sesuai dengan perencanaan dan gambar yang kita lihat, sangat besar potensinya," ujarnya. Dia berharap ke depan semua pihak baik pemerintah maupun swasta dapat menunjukkan kepeduliannya, menjadikan objek wisata ini bisa berperan demi kemajuan daerah.
Disisi lain, Ketua BPD Ketahun Dian Sucheri AMd mengakui, selain event tahun tahun lalu, beberapa kegiatan pun digelar di lokasi pantai ini. "Kita sudah merancang beberapa persiapan untuk memberdayakan kawasan wisata pantai ini. Bahkan sempat membangun jalan dan membuka sirkuit grasstrack," katanya. Dari beberapa event di kawasan ini, animo masyarakat dan pengunjung sangat besar karena para pengunjung tidak hanya berasal dari penduduk lokal tetapi juga di luar Ketahun.
"Kami berharap ada langkah untuk membangun objek wisata kita ini. Karena sejak awal, kita memang bertekad memajukan lokasi wisata ini. Upaya penghijauan sudah dilakukan baik oleh pemerintah maupun swadaya. Semoga saja akan membuahkan hasil," harapnya. (pendi - Radar Utara)

Takjub Keajaiban di Mukomuko





Takjub Keajaiban di Mukomuko

PUASA tak menghalangi Tim Radutraveling untuk terus menjelajahi potensi wisata alam di Provinsi Bengkulu. Setelah mendengar kabar tentang adanya kolam air panas di kawasan Devisi VII PT Albert Nopian (Alno) Air Ikan Estate, Kamis (4/8) kemarin tim bersemangat untuk menjelajahi potensi wisata terbaru di Kabupaten Mukomuko ini. Bahkan bisa jadi sebagian besar warga Mukomuko belum sepenuhnya mengetahui tentang lokasi air panas ini.
Obyek wisata air panas ini berada di kawasan Desa Serambi Baru Kecamatan Malin Deman, terletak di Devisi VII PT Alno Air Ikan Estate. Di lokasi ini, terdapat 2 kolam air panas besar dengan ukuran setiap kolam 20 meter x 10 meter dan 3 kolam air panas kecil dengan ukuran 5 meter x 3 meter. Sayangnya, untuk menempuh lokasi ini kita membutuhkan waktu yang tidak sebentar dan menempuh jarak mencapai 25 Km dari pusat Ibukota Kecamatan Ipuh.
Jika harus melalui jalan lintas Kecamatan Malin Deman, pengunjung harus menyebrangi Sungai Batang Muar dengan menggunakan kendaraan air sejenis rakit atau perahu yang berjarak sekitar 5 Km dari Desa Serambi Baru. Untuk menuju lokasi air panas, jalan yang dilalui masih berupa hamparan tanah beserta koral. Sehingga sedang musim hujan, tak usah bermimpi untuk dapat pergi ke sana kecuali berjalan kaki dengan menempuh jarak cukup jauh.
Potensi wisata Air Panas ini tidak kalah dengan obyek wisata yang ada di 9 kabupaten dan kota di Provinsi Bengkulu. Bahkan obyek wisata Air Panas Desa Serambi Baru ini tak kalah menariknya dengan Air Panas di Desa Air Panas Baru Kecamatan Air Hangat Kabupaten Kerinci Jambi. Sayangnya, obyek wisata di Mukomuko ini belum mendapat perhatian dari Pemkab.
Tak ubahnya dengan obyek wisata air panas lainnya, air panas di Desa Serambi Baru ini ditandai dengan setiap kolam airnya dalam keadaan mendidih. Saat ini, lokasi ini sudah dikelola PT Alno Agro Air Ikan dengan pembuatan tempat lokasi istirahat untuk para pengunjung serta tempat duduk di sekitar kolam air panas. Selain itu, air panas yang dikeluarkan dari setiap kolam masih berbau belerang. Bahkan menurut cerita warga, kita bisa merebus telur di kolam ini dan akan masak dalam waktu 5 menit.
Tokoh masyarakat Desa Serambi Baru, Jamil mengatakan, air panas yang terdapat di sekitar lahan perkebunan PT Alno Air Ikan ini telah ditemukan dari nenek moyang warga Desa Serambi Baru sekitar tahun 1900-an silam. Dulunya, lokasi ini dijadikan tempat mandi untuk mengobati penyakit gatal serta penyakit kulit lainnya. "Air Panas ini memang sudah lama ditemukan, namun untuk asal muasal air panas muncul dari dulunya tidak diketahui secara persis dari mana. Sebab air panas terbentuk dengan sendirinya yang ditemukan nenek moyang dari warga Desa Serambi Baru," kata Jamil.
Menurutnya, lokasi ini sudah dikelola sejak 1 tahun terakhir, ditandai dengan membersihkan lokasi dan membuat pondok dan tempat duduk. "Sebelum PT Alno membuat kebun sawit tahun 2000 lalu, lokasi air panas masih dalam keadaan hutan belukar. Selain itu, air panas dulunya juga sebagai lokasi hewan rusa, burung pergam, jenis perkutut ataupun harimau untuk minum. Sejak adanya pembukaan kebun sawit, hewan mulai menghilang dengan sendirinya kecuali burung pergam yang saat ini masih sering terlihat," kisahnya.
Hal senada juga disampaikan tokoh masyarakat M Nadar, sejak adanya pembuatan pondok dan tempat duduk di sekitar air panas ini, setiap minggunya banyak  warga dari Kecamatan Ipuh dan Kecamatan Malin Deman yang sengaja datang ke lokasi ini. "Sebagian warga yang berkunjung ke sana untuk mandi dan mencoba masak telur di air panas. Untuk warga yang mandi dapat bertahan paling lama 3 menit. Sebab temperatur panasnya masih tinggi dan airnya berbau belerang,"  ujar Nadar. (doni aftarizal - Radar Utara)

Wisata Sejarah di Batavia II





Wisata Sejarah di Batavia II

KABUPATEN Lebong adalah salah satu kabupaten di Provinsi Bengkulu yang diresmikan 7 Januari 2004 lalu. Sebelumnya, Lebong merupakan bagian dari Kabupaten Rejang Lebong, daerah potensial penambangan emas sejak zaman dahulu. Selain dikenal dengan sebutan Batavia II, Lebong juga merupakan daerah penghasil emas. Bukan kabar burung lagi, bahkan emas yang ada di ujung tertinggi Monumen Nasional (Monas) di Jakarta dan menjadi kebanggaan bangsa ini diketahui berasal dari Kabupaten Lebong yang saat ini masuk dalam kategori daerah tertinggal.
Di Kecamatan Lebong Utara, penambangan emas primer telah berlangsung sejak zaman penjajahan Belanda dan masih berlangsung hingga sekarang. Bagi sebagian besar masyarakat di kecamatan ini, khususnya Desa Lebong Tambang, pekerjaan penambangan emas merupakan pekerjaan utama  mereka sehari-hari. Sedangkan bertani merupakan pekerjaan sampingan. Hasil yang diperoleh dari pekerjaan penambangan emas ini dapat mencukupi kebutuhan hidup mereka sehari-hari.
Umumnya, masyarakat melakukan penambangan secara konvensional secara turun-temurun. Di Lebong Tambang, rakyat telah mendapat izin sebagai penambang dengan dikeluarkannya WPR (wilayah pertambangan rakyat) oleh dinas terkait. Tetapi sebagian besar penambang di daerah Tambang Sawah dan daerah Hulu Ketenong umumnya merupakan penambang ilegal atau dikenal juga sebagai PETI.
Menariknya, beberapa situs sejarah di daerah ini cukup menjanjikan untuk dijadikan kawasan wisata.  Seperti di Lebong Tambang, terdapat tujuh buah lubang penggalian dengan kedalaman maksimum sampai 50 meter. Hanya saja, lubang yang masih aktif sampai sekarang hanya tiga lubang yakni lubang lapan (sisa buangan kegiatan penambangan Belanda), lubang kacamata dan lubang dalam (di daerah Saringan).
Umumnya pula, para penambang melakukan pengolahan dengan menggunakan tromol atau glundung dan memakai air raksa sebagai penangkap molekul-molekul emas. Pengolahan dimulai dengan cara menumbuk batu-batu sehingga menjadi butiran-butiran berukuran halus. Selanjutnya, dipisah menggunakan glundung
dengan sistem merkuri amalgam hingga menghasilkan bullion yang selanjutnya dijual ke toko yang telah menjadi langganan penambang.
Untuk diketahui, glundung adalah besi besar berbentuk silinder yang berfungsi untuk memisahkan batu-batu dan pasir serta molekul emas dan perak dengan menggunakan kincir air untuk menggerakkan glundung dan memakai air raksa (Hg) sebagai penangkap molekul-molekul emas dan perak.
Sayangnya, kejayaan Lebong pada zaman kolonial dulu, kini hanya menyisakan puing-puing bangunan. Bangunan sejarah itu perlahan terkikis oleh tangan-tangan jail. Sedangkan Pemkab Lebong tampaknya tertarik menjadikan lokasi ini sebagai salah satu tempat kawasan wisata andalan. Terbukti, bangunan peninggalan zaman kolonial belanda inipun saat ini sudah banyak yang dihancurkan masyarakat untuk mencari keuntungan pribadi.
Sejatinya, dengan dilakukan pelestarian bangunan-bangunan peninggalan zaman kolonial Belanda ini, dapat menjadi sektor penyumbang ilmu pengetahuan
bagi anak cucu kita kedepan. Namun kondisinya sekarang, tak hanya sudah banyak yang hancur oleh tangan-tangan tak bertanggung jawab, namun lahan salah satu bangunan peninggalan zaman kolonial ini ternyata sudah diberikan kepada salah satu perusahaan yang bergerak pada pertambangan emas. Akibatnya, sisa-sisa bangunan ini semakin terancam tak bersisa. (debi antoni - Radar Utara)

Pantai Jakat, Wisata Laut Sesungguhnya






Pantai Jakat, Wisata Laut Sesungguhnya

JIKA anda ke Kota Bengkulu, belum lengkap rasanya kalau anda belum mengunjungi Pantai Jakat. Dari sederetan wisata pantai di Kota Bengkulu, mulai dari Pantai Panjang dan Pantai Tapak Paderi, Pantai Jakat memberikan wisata laut yang sesungguhnya. Selain keindahan panorama alam, pantai ini juga sudah dilengkapi dengan fasilitas untuk bermain-main dengan ombak.
Pantai yang hanya berjarak sekitar 2 kilometer dari pusat kota ini menawarkan berbagai hiburan wisata air. Karena memang Pantai Jakat aman untuk berenang dibandingkan dengan dua pantai tadi.
Selain berenang, hiburan lainnya yang bisa diperoleh yaitu jasa penyewaan jet ski dan banana boat. Bagi anda yang tak bisa berenang, jangan khawatir, dengan merogoh kocek Rp5 ribu, anda sudah bisa menyewa ban yang bisa menemani dan membuat anda nyaman selama bermain dengan pecahan ombak. Sesekali anda  bisa berselancar (surfing) jika ombak pantainya sedikit tinggi.
Di Pantai Jakat, wisatawan dapat menikmati keindahan pantai yang masih terjaga dan tidak tercemar. Para pengunjung biasanya memanfaatkannya dengan mandi pasir yaitu dengan menguburkan anggota badannya di pasir. Pantai Jakat juga tempat yang tepat menikmati pemandangan alam yang sangat indah saat sunset menghampiri Kota Bengkulu.
Habis berendam dan bermain air, tentu rasa lapar yang akan mendera. Tak usah bingung mencari makanan. Sebab di sepanjang jalan di Pantai Jakat, banyak penjual jagung dan pisang bakar serta berbagai aneka gorengan hasil laut khas Bengkulu yang dapat memanjakan selera kuliner anda dan menghilangkan rasa lapar.
Jika para pembaca ingin mencoba berlibur, untuk menghilangkan kepenatan sehabis bekerja selama seminggu, tidak ada salahnya anda berkunjung ke Kota Bengkulu dan jangan lupa, Pantai Jakat sebagai tujuan wisata anda. (yasrizal - Radar Utara)

Curug Embun di Tapak Gedung




Curug Embun di Tapak Gedung

BEBERAPA waktu lalu, saya dan kawan-kawan di Komunitas Peduli Puspa Langka (KPPL) Bengkulu, mengunjungi Air Terjun Curug Embun di Kabupaten Kepahiang Provinsi Bengkulu. Seperti diketahui, Kepahiang adalah salah satu Kabupaten di Provinsi Bengkulu yang merupakan daerah pegunungan, penghasil sayuran terbesar di Provinsi Bengkulu. Dari Kota Bengkulu, diperlukan setidaknya waktu 1,5 jam menuju kabupaten ini.
Bagi wisatawan dari luar Bengkulu, obyek wisata yang terdapat di Desa Tapak Gedung Kepahing Jl. Perum Kepahiang Beringin Tiga ini berjarak sekitar 60 Km dari Bandara Fatmawati Kota Bengkulu dan dapat ditempuh dengan kendaraan umum. Rute yang anda harus ambil setelah mendarat di Bandara Fatmawati yaitu menuju Kabupaten Kepahiang yang berjarak 60 Km dari pusat Kota Bengkulu. Tiba di Kota Kepahiang, perjalanan dilanjutkan menuju Desa Tapak Gedung yang berjarak 10 Km dari Kota Kepahiang.
Menurut cerita penduduk setempat, nama Tapak Gedung berasal dari kata bekas gedung. Maksudnya,  Tapak Gedung merupakan bekas gedung atau bangunan zaman dulu. Sebelum dibangun rumah penduduk, dulu banyak bekas bangunan lama terbuat dari beton. Penduduk asli desa ini meyakini gedung tersebut merupakan peninggalan Belanda. Selain bekas gedung, ada juga makam kuno, persis di bagian atas Air Terjun Curug Embun. Konon katanya, kuburan tersebut adalah kuburan rakyat yang dijatuhkan penjajah dari atas air terjun.
Untuk menuju lokasi, kita dapat melihat papan nama petunjuk sederhana. Saat itu, kami menitipkan sepeda motor di rumah penduduk yang kebetulan saat kami temui sedang mengumpulkan kopi yang telah dijemur. Dengan ramah kemudian dia mempersilakan kami memarkirkan motor.
Di sini, udaranya sungguh sejuk. Wajar saja, karena merupakan daerah pegunungan, tempat tumbuh suburnya padi dan tanaman sayuran lainnya. Di lokasi ini juga banyak dijumpai  tanaman bunga yang indah dan berwarna-warni. Sepanjang lokasi menuju air terjun, kita kembali akan menemukan berbagai macam bunga dan juga tanaman kopi. Berkebun kopi nampaknya menjadi mata pencaharian utama penduduk desa ini.
Untuk memasuki kawasan air terjun ini, kita dipungut retribusi Rp2 ribu perorang dan parkir Rp2 ribu perkendaraan. Dari pintu masuk, sekitar 100 meter  kita akan melewati jalan menurun menuju air terjun.
Air terjun Curug Embun  ini memiliki daya tarik tersendiri karena merupakan air terjun dengan ketinggian 100 meter dan pesona panorama pegunungan yang indah dengan udara yang sejuk. Di sepanjang pinggiran air terjun, tumbuh banyak tanaman bunga cantik membuat air terjun ini semakin eksotis dan alami. Airnya yang dingin membuat pikiran pun menjadi tenang. Refreshing sejenak dari penatnya kesibukan di kota.
Kita bisa merasakan sendiri sejuknya percikan air terjun sambil berjalan di atas batu-batu sungai yg berukuran besar, sungguh benar-benar fresh. Di hari libur, lokasi wisata ini ramai dikunjungi, baik pagi maupun sore. Kebanyakan pengunjung adalah muda-mudi, mereka selalu menyempatkan berfoto bersama dengan latar belakang air terjun indah. Moment yang wajib diabadikan memang.
Beberapa anak-anak penduduk asli asyik mandi dan berani terjun di kedalaman 4 meter lebih, bebatuan yang besar di sepanjang sungai juga airnya yang jernih membuat kami jadi ingin ikut mandi. Namun karena sudah sore, akhirnya kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan pulang ke Bengkulu melewati perkebunan teh kabawetan yang luas. Udara sejuk selalu menemani kami selama perjalanan dengan panorama dan pemandangan alam yang luar biasa indah. Menakjubkan. Sekitar 15 menit kami memasuki kawasan Desa Tebat Monok Kabupaten Kepahiang Bengkulu, di desa ini kami singgah sebentar untuk membeli oleh-oleh buah-buahan yang banyak dijual penduduk setempat di pinggir-pinggir jalan.
Wisata alam air terjun Curug Embun ini sudah selayaknya mendapatkan perhatian lebih dari pemerintah setempat untuk mulai menata dan mengelolanya kembali menjadi lebih baik. Sehingga bisa menjadi salah satu tujuan wisata andalan di Kabupaten Kepahiang. Pemasangan gapura atau pintu masuk yang bagus akan mempercantik lokasi ini sekaligus menjadi identitas wisata yang patut dikunjungi bagi siapa saja. (sofian - Pembaca Radar Utara)